Rabu, 08 September 2010

Kriptokismus

how to make money online
Pengertian
            Menurut Smeltzer dan Bare (2002:1635) kriptokismus adalah salah satu atau kedua testis dari skrotum. Testis mungkin terletak di dalam rongga abdomen/kenali ingunalis.
            Pulungan (2009:1) menjelaskan bahwa kriptorkismus adalah terhentinya proses penurunan satu atau kedua testis di suatu tempat antara rongga perut dengan kantung zakar. Kriptorkismus merupakan gangguan diferensiasi seksual laki-laki yang paling sering dijumpai.

Anatomi dan Fisiologi Reproduksi Laki-laki
Menurut Price dan Wilson (2006:1311) struktur dan fungsi struktur testis tidak terlepas dari reproduksi laki-laki. Testis mempunyai fungsi ganda pembentukan spermatozoa dari sel-sel terminal tubulus semini ferus dan sekresi hormon seks pria yaitu testosteron yang menyebabkan dan memelihara karakteristik seks pria.
            Smelzer dan Bare (2002:1619) menjelaskan bahwa testis bagian dalam terbagi atas lobulus yang terdiri dari tulus seminiferus, sel-sel Sertoli atau spermatogenesis terjadi pada tubulus seminiferus. Sel-sel Leydig menyekresi testosteron. Pada bagian posterior tiap-tiap testis, terdapat duktus melingkar yang disebut epididimis. Bagian kepalanya berhubungan dengan duktus seminiferus (duktus untuk aliran keluar) dari testis, dan bagian ekornya terus melanjut ke vas deferens. 
Menurut Heffner dan Schust (2009:60) mengemukakan bahwa fungsi primer dari sistem testis adalah menghasilkan spermatozoa. Testis mempunyai fungsi eksokrin dalam spermatogenesis dan fungsi endokrin untuk menyekresi hormon-hormon seks yang mengendalikan perkembangan dan fungsi seksual. Semua fungsi dari sistem reproduksi laki-laki diatur melalui interaksi hormonal yang kompleks.
Lebih lengkap Smeltzer dan Bare (2002:1619) menambahkan bahwa fungsi testis adalah fungsi grandular. Testis mempunyai fungsi ganda yaitu pembentukan spermatozoa dari sel-sel terminal tubulus semi ferus dan sekresi hormon seks pria yaitu testosteron yang menyebabkan dan memelihara karakteristik seks pria.

Etiologi
            Menurut Heffner dan Schust (2009:60) penyebab kriptokismus adalah testis bisa kurang aktif karena kelenjar hipofisa tidak menghasilkan hormon yang merangsang testis atau karena terdapat kelainan pada testis. Jika testis kurang aktif maka pembentukan androgen berkurang pertumbuhan dan perkembangan seksual mengalami kemunduran pembentukan sperma berkurang dan penis berukuran kecil.
Menurut Pulungan (2009:1) penyebab kriptokismus adalah akibat gangguan hormon pada sang ibu saat hamil, dimana bayi mempunyai respons abnormal terhadap hormon ibunya, bayi mempunyai respons abnormal terhadap hormon ibunya, adanya halangan fisik di tubuh anak yang mengalami testis turun, adanya timbul lemak karena si kecil/pasien gemuk dan tertekan oleh kaki saat dalam kandungan.

Gejala Klinis
Pulungan (2009:1) mengemukakan bahwa testis yang tidak turun tidak menimbulkan keluhan seperti sakit, jadi sering tidak diketahui kecuali orang tuanya dan dokter teliti memeriksa serta memperhatikan genital. Kriptorkismus perlu dicurigai jika kantung zakar terlihat rata dan kecil yang seharusnya membulat dan tampak dua kantung. Biasanya kriptorkismus dapat terdiagnosis pada bayi baru lahir atau pada saat kontrol rutin bulanan ke dokter.

Patofisiologi
Heffner dan Schust (2009:61) menjelaskan bahwa suhu di dalam rongga abdomen ± 10C lebih tinggi daripada suhu di dalam skrotum, sehingga testis abdominal selalu mendapatkan suhu yang lebih tinggi daripada testis normal; hal ini mengakibatkan kerusakan sel-sel epitel germinal testis. Pada usia 2 tahun, sebanyak 1/5 bagian dari sel-sel germinal testis telah mengalami kerusakan, sedangkan pada usia 3 tahun hanya 1/3 sel-sel germinal yang masih normal. Kerusakan ini makin lama makin progresif dan akhirnya testis menjadi mengecil. Karena sel-sel Leydig sebagai penghasil hormon androgen tidak ikut rusak, maka potensi seksual tidak mengalami gangguan. Akibat lain yang ditimbulkan dari letak testis yang tidak berada di skrotum adalah mudah terpluntir (torsio), mudah terkena trauma, dan lebih mudah mengalami degenerasi maligna. 

Komplikasi
Pulungan (2009:1) menjelaskan ada beberapa komplikasi kriptorkismus. Komplikasi jangka panjang yang terpenting adalah keganasan (kanker) dan infertilitas. Selain keganasan dan infertil dilaporkan juga komplikasi lain yaitu torsi testis dan hernia inguinalis. 

 Tes Diagnosa
Heffner dan Schust (2009:60) mengatakan bahwa untuk diagnosis harus diperiksa dengan teliti. Jika perlu dapat dilakukan USG atau MRI atau bahkan laparoskopi dan khusus untuk kriptorkismus bilateral harus dilakukan uji HCG (human chrorionic gonadotropin).

  Pengobatan dan Penatalaksanaan
Menurut Smeltzer dan Bare (2002”1635) bahwa bilamana testis tidak turun, maka dilakukan tindakan bedah. Kriptokismus harus diobati karena jika testis tidak bergerak turun, akhirnya risiko komplikasi akan meningkat. Pada banyak kasus testis masih bisa turun sampai umur 6 bulan, namun setelah umur 6 bulan harus diberi pengobatan, yaitu dengan pemberian hormon HCG, dan jika tidak turun sampai umur 2 tahun sebaiknya dilakukan penurunan dengan tindakan bedah yang dikenal dengan orkidopeksi. Tujuan orkidopeksi adalah tindakan bedah untuk meletakkan testis ke dalam skrotum dengan melakukan fiksasi pada kantong sub dartos. Tujuan bedah pada kriptorkismus adalah: (1) mempertahankan fertilitas, (2) mencegah timbulnya degenerasi maligna, (3) mencegah kemungkinan terjadinya torsio testis, (4) melakukan koreksi hernia, dan (5) secara psikologis mencegah terjadinya rasa rendah diri karena tidak mempunyai testis.

Pencegahan
Pulungan (2009:1) mengemukakan pencegahan agar terhindar dari kriptorkismus adalah:
1.      Pastikan jenis kelamin anak saat baru lahir
2.      Anak laki-laki harus mempunyai dua testis saat lahir, jika kedua testes tidak teraba harap segera konfirmasikan kepada dokter.
3.      Periksa apakah kriptorkismus disertai mikropenis
4.      Jika sudah jelas kriptorkismus, boleh ditunggu sampai umur 6 bulan. Jika setelah umur 6 bulan belum turun harus segera diobati.


 


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar